Posted by: Tohar | May 3, 2009

Kenapa mesti berbeda?


Sudah bukan rahasia lagi bahwa konflik seputar SARA menjadi permasalahan yang serius, apalagi kalau konflik ini ditumpani oleh orang-orang tertentu. Kalau mau ditelurusi, sebenarnya konflik SARA tidaklah ada, yang ada adalah “conflict of interest” dengan akar “politik” dari segelintir orang. Namun agar tidak kentara, konflik ini dibumbui dengan unsur sara dan karena sudah menjadi karakter manusia yang cenderung “fanatik” terhadap kelompok atau agama tertentu. Yang menjadi akar dari “fanatisme” ini tidak lain adalah bumbu akan perang suci dan bagi yang mati maka akan menjadi “pejuang suci” dalam islam disebut syahid, entah dalam agama yang lain. Lalu yang muncul adalah embel-embel perang antar agama seperti yang terjadi di Ambon yang sampai sekarang belum bisa tuntas.

Tidak ada paksaan dalam beragama. Dalam al quran juga jelas diterangkan “tidak ada paksaan untuk masuk Islam – li ikroha fiddiin”. Bebas.. tanpa syarat. Semua dikembalikan kepada masing-masing pribadi. Janganlah soal agama, soal hidup dan mati saja Allah menyerahkan sepenuhnya kepada manusia. Mau mati dalam keadaan baik, silahkan, mau mati dalam keadaan tidak baik, ya monggo saja. Artinya manusia sendirilah yang menentukan jalan hidup sendiri. Allah hanya memberikan “garis batas’, mau berada dalam garis itu, boleh, mau keluar dari garis itu juga boleh. Bebas kan?…

Agama tidak ubahnya adalah istri atau suami kita, jadi dasar pemilihan ini tentunya sudah melalui berbagai tahap dan proses yang selektif, bukan asal pilih. Orang lain tidak perlu mencampuri atau memaksa saya atau anda menentukan siapa istri atau siapa suami nanti. Iya kalau cocok, kalau tidak cocok apa tidak ribut nantinya. Termasuk soal perjodohan saja sudah dibahas dalam Novel Siti Nurbaya bahkan sudah diangkat ke Sinetron.

Saya suka cewek yang berambut lurus, panjang dan berkulit putih. Sedangkan teman saya suka cewek yang berambut keriting dan berkulit sawo matang. Ya silahkan saja, tidak perlu saya mengomentari teman saya itu, he.. istrimu kok kulitnya coklat, mending milih cewek seperti istriku saja, kulitnya putih. Temen saya lalu menjawab, apa kelebihan cewek kulit putih, tidak menarik, tidak seksi dan sebagainya. Kalau celotehan ini berlanjut, yang timbul berikutnya adalah perang fisik. Ini adalah analogi yang sama soal agama. Istri atau suami adalah agama yang kita pilih. Kalau tidak cocok ya boleh cerai kok, lalu mencari pasangan hidup lagi.

Tidak perlu membenci orang yang menganut agama berbeda. Leluhur kita sama yaitu dari Nabi Adam dan Ibu Hawa. Lebih sederhana lagi, semua manusia adalah SAUDARA.Manusia memang diciptakan berbeda kalau dibuat sama, tidak akan ada kehidupan. Meskipun berbeda, tujuannya adalah sama, yaitu menggapai “kebahagiaan” yang kekal dan saya sudah menentukan bahwa istri saya adalah ISLAM dan saya yakin saya akan selamat dan bahagia bersamanya. Jika anda sudah menentukan istrinya dengan HINDU, atau BUDHA atau KRISTEN atau KATOLIK, silahkan saya. Tinggal jalani kehidupan dengan istri yang anda pilih dan jalani dengan sebaik-baiknya. Lebih simple lagi, jadilah Islam yang baik, jadilah Kristen yang baik, jadilah Hindu yang baik dan jadilah Budha yang baik, bahkan jadilah seorang Kejawen yang baik. Agama adalah jalan terang, agama adalah kendaraan. Aku suka Toyota Kijang LGX, anda suka Inova, yang lain suka Honda Jazz.

Saya hanya berandai, andai saja semua orang memiliki persepsi yang sama seperti ini, alangkah damainya hidup ini. Bagi yang Kristen dan kebetulan sedang bepergian dan rumahnya sedang kosong, tetangganya yang Islam silahkan saja menungguinya biar tidak dimasuki maling. Bagi yang Islam dan kebetulan istrinya mau melahirkan, silahkan saja minta tolong tetangganya yang Kristen untuk mengantarkan ke Rumah Sakit.

Conflict of Interest yang jauh lebih besar adalah ketika konflik ini sudah merambah ke perkantoran, ke pemerintahan sehingga pemilihan pegawai lebih diutamakan kepada golongan tertentu bukan dipilih berdasarkan profesionalisme. Saya lebih cenderung kepada dunia barat dimana “profesionalisme” ini yang harus diusung. Mereka tidak pernah perduli mau Arab, mau Inggris, mau India, mau Indonesia, agamanya apa, sukunya apa, sepanjang mampu, ya dipilih. Nyatanya di Microsoft sendiri dalam 10 Top Rank ahli IT dan juga di Silicon Valley, penghasil Chip terbesar di dunia, adalah orang dari Asia yaitu India dan juga Indonesia.

Dalam surat Ar-Rum sendiri sudah ditegaskan, “janganlah membangga-banggakan golongan”, Allah tidak suka kaumnya membanggakan golongan, meskipun itu adalah Islam. Kalau sudah membangga-banggakan agama, yang keluar adalah emosi karena akan menjelekkan agama tertentu. Yang boleh dibanggakan adalah ALLAH. Itu saja. Banggakanlan ALLAH sesuai dengan tatanan agama yang kita anut. Berfanatiklah kepada ALLAH lewat tuntunan IBADAH sesuai dengan agama yang kita anut. Setelah itu kembalilah hidup bermasyarakat yang baik, tepo seliro, andap asor, hormat menghormati sesama, jangan saling menjatuhkan.

Dalam Islam, percaya kepada Nabi dan Rosul adalah Iman. Jadi tidak perlu menjelekkan saudara kita yang Kristen, karena Nabi Isa kan termasuk Nabi dan Rosul. Juga dengan saudara kita yang Budha, bukanlah Sidharta Gautama itu adalah Nabi Zurklifli?

Lakum dinukum waliyadin… biarlah aku begini dan kau begitu. Ini adalah arti jika diterjemahkan secara bahasa lagu. Cukuplah istriku untuk diriku sendiri dan istrimu adalah untuk dirimu sendiri, jangan mengomentari istriku dan saya pun tidak ada gunanya mengomentari istri tetangga atau temanku… Nyaman dan tenteram kan….

Ditulis dari Bagian Perjalanan Jiwa
6 Mei 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: