Posted by: Tohar | June 3, 2009

Khusyuk kok susah ya?


Itu adalah pertanyaan yang disampaikan 2 orang teman saya kemarin saat istirahat siang. Teman yang satu mengatakan, saya bisa sholat khusyuk itu pas baru pulang dari haji, sedangkan yang satunya malah bertanya khusyuk itu yang seperti apa? Yang satunya melanjutkan ketika sedang sholat, agar bisa khusyuk saya membayangkan lafadz Allah di depan kita. Atau hati ini selalu menyebut asma Allah ketika sholat. Saya mencoba menjelaskan konsep khusyuk dari yang paling sederhana bahwa khusyuk itu adalah bisa dilatih, cara melatihnya adalah berusaha selalu “sambung” ke Allah terus. Caranya hati ini hanya fokus ke ALLAH. Saya menganalogikan bahwa ketika sedang menghadap Presiden, tidak ada kesempatan lagi memikirkan hal lain kecuali hanya menyampaikan laporan dengan rinci dan teratur. Nah apalagi ini kita menghadap ALLAH, Penguasa Seluruh Alam, mosok masih sempat-sempatnya mikir pekerjaan dll. Saya lanjutkan lagi bahwa khusyuk bukan berarti ada lafadz ALLAH berjalan didepan mata atau ada cahaya bertebaran. Khusyuk adalah konsentrasi dengan penuh kesadaran akan ALLAH, bukan ke yang lain. Saya berusaha menjelaskan dari berbagai aspek… tapi mereka bilang wuadoh.. belum sampai ke situ katanya. Yo wis, tak jawab saja, besuk kita lanjutkan lagi perbincangan…dan sebelum beranjak pergi, saya kasih PR ke mereka, coba nanti di rumah, latihan patrap dulu.. berdzikir yang tenang.. dirasakan, jangan terburu-buru. Sambutan ALLAH itu langsung dan kontan. Insyaallah dengan latihan seperti itu nanti secara otomatis bisa memahami khusyuk itu seperti apa dan pada akhirnya bisa menjalankan sholat dengan khusyuk. Ternyata… ndak mudah juga menjelaskan sesuatu ya….


Responses

  1. Cita-cita boleh tinggi dan setinggi-tingginya.
    Berharap memperoleh khusyu dalam shalat adalah niatan mulya.
    Namun perlu disadari, bahwa: materi shalat tak cuma syariat saja, namun juga mencakup ma’rifat dan hakikat.

    Praktikumnya sampai seumur, masa belajarnya hanya bab shalat doang. Logiskah? Inilah yang perlu kita cermati bersama.

    Dan salah satu filosofi yang kadang ditinggalkan oleh kita adalah thuma’ninah.

    Analogi sederhananya, begini:
    Jangan berharap “cepat” dapat menyandang penghargaan gelar sarjana kalau sekolahnya masih duduk dibangku sekolah dasar.

    Sulitkah memperoleh shalat yang khusyu? ikuti saja prosesnya seperti orang sekolah. Dan mungkin sayapun baru duduk di kelas satunya.

  2. apalagi saya mas… masih TK nol kecil… malah baru belajar merangkak. saya hanya mencoba menyebarkan kabar baik kepada teman-teman yang kebetulan memang kepingin sholat dengan khusyuk, jadi gayung bersambut dan jadinya sering sharing saja soalnya ketemunya juga di kantor mas..jadi singkat-singkat saja dan semoga bermanfaat.

  3. amin..

  4. apalagi saya mas much, kalau mas much saja masih nol kecil keterlaluan sekali kalau saya kemarin mengklaim diri saya masih tk. Jadi saya play group saja belum kok sudah pengin instant merasakan karunia khusyuk dari Allah SWT. Yah mohon doanya saja agar aq dimampukan Allah SWT selalu istiqomah n thuma’ninah dalam mendirikan sholat. Wass wr wb.

  5. iya mas wi, saya juga masih TK nol kecil kok. nanya terus kepada teman2 yang sudah tahu. semoga kita dikuatkan dan diperjalanlan oleh ALLAH mas.

  6. sama2 belajar dan sama2 pejalan
    tidak bermaksud menggurui apalagi merasa lebih tinggi
    hanya berbagi, semoga Allah merahmati
    & mohon maaf bila khilaf

    Sekedar tips agar shalatnya tidak terburu2

    Nikmati prosesnya shalat dengan sabar
    Nikmati berdiriya, sujud dan rukunya
    Thumakninah bacaannya [menyampaikan yang dibaca]
    Thumakninah gerakkanya [lakukan dengan santun].

    Syukuri nikmat bisa shalat itu
    Insyaallah di shalat2 berikutnya akan bertambah2 nikmatnya.
    Dari shalat2 sesudahnya

  7. amin…pangestune mas abdul…

  8. Selengkah kedepan

    Panggil-panggilah Allah sampai hati ini bergetar [wajilats qulubuhum] hingga akhirnya hati/dada menjadi tenang.

    Jika sudah bergetar kaya gini, maka kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun, mendengar sebutan, panggilan Allah, kontan hatinya akan bergetar.

    Dan shalatlah.
    Ketika “Allahu akbar” hatinya si peshalat itu langsung bergetar dan terus… bergetar karena mendengar sebutan/panggilan Allah. “asshalatu shilatun baina robbi wa a’bdi”
    Dalam shalatnya kadang butiran2 bening mengaliri pipi
    Dalam shalatnya kadang diisakkan dan ditangiskan
    Dalam shalatnya kadang ditenangkan yang sangat.

    Semoga..
    [lihat Al-Anfal:2]

  9. bener mas. semua itu sangat terasa bukan dibuat-buat tetapi karena ALLAH lah yang sebenarnya menggetarkan diri ini..

  10. bukan mengetarkan diri mas, tapi Allah menyambut shalat anda, Allah sedang memperhatikan persembahan diri kita hanya untuk Nya, Allah sedang mengajak kita berdialog, apa yang kamu butuhkan dari AKU hamba Ku, mintalah-mintalah karena AKU lah TUHAN mu.

  11. yup.. setuju mas.

  12. ini juga aneh lagi tanggapan mas abdul…..siapa yang membagi agama islam menjadi 3?????ada syariat hakikat marifat…..aduh mas…tunjukkan haditsnya kalau nabi mengatakan bahwa islam di bagi menjadi 3 unsur yang anda sebutkan….mohon jangan bikin HOAX atau bid’ah ya…..

  13. mas bastomi ini kelihatannya masih melihat sesuatu dari bungkus terus. jangan tertipu bungkus mas. semoga jenengan paham dengan maksud bungkus ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: