Posted by: Tohar | June 10, 2009

santai – sehat – ibadah


Masih ingat ketika 4 tahun lalu, kami piknik ke Taman Kyai Langgeng, Magelang dan kami mencoba naik Jet Coaster. Awalnya kami happy-happy saja, tetapi ketika kereta diluncurkan dan kereta berbelok tiba-tiba terlintas pikiran seandainya kereta terlepas dan terlempar maka akibatnya adalah …. mati.. karena terlempar dari ketinggian sekitar 6 meter. Detik itu juga setiap kereta berbelok emosi ini langsung bermain.. otak ini langsung mikir kemana-mana dan yang keluar adalah teriakan untuk mengimbangi rasa kuatir tersebut dan begitu selesai.. tubuh ini menjadi lemas dan jantungpun berdetak lebih kencang. Tapi ketika kutanya anak-anak, mereka malah menjawab.. senang pak.. mau coba lagi. Lain dengan istriku, hampir sama dengan saya, alias kapok tidak mau lagi. Dan akhirnya kedua anak saya pun naik lagi tanpa saya temani.

Baru-baru ini terjawablah sudah kenapa anak-anak tidak mengalami ketakutan sedangkan pada orang tua malah kapok bermain “jet coaster” tersebut. Jawabannya adalah anak-anak bermain dengan tidak melibatkan emosi atau pikiran… yang penting “happy”. Jadi kalau sudah happy keluarnya juga happy. Tidak ada beban dan tidak ada juga rasa takut atau kuatir. Sama, ketika ada ular, maka kita secara refleksi otak ini berputar.. wah bahaya.. beracun. Seandainya otak ini berasumsi ular itu tidak berbahaya atau tidak beracun beracun.. maka efeknya adalah sama saja kalau ketika kita ketemu kucing, jadi biasa saja.

Yang bisa saya ambil dari cerita di atas adalah ciptakan kesadaran seperti anak-anak itu, tidak ada rasa emosi, tidak ada rasa kuatir dan yang ada hanyalah “happy”. Tidak ada beban sehingga setiap hari tidak lain adalah senang dan senang. Siapa yang tidak suka dengan “anak-anak”, semua pasti suka. Nah, jika kondisi seperti itu bisa tercipta maka secara otomatis orang lain pun juga akan suka dengan kita. Kesadaran seperti anak-anak inilah ketika dihubungkan dengan ibadah adalah keadaan yang “IKHLAS”, tidak ada beban, tidak punya pengharapan kecuali senang dan senang. Tinggal setelah tanpa beban, tanpa pengharapan macem-macem ini ditujukan kepada ALLAH.

Ketika kondisi kejiwaan pada anak-anak yang santai, senang, tidak ada beban ini saya hubungkan dengan anatomi tubuh, maka terjawablah sudah kenapa anatomi tubuh (organ) pada anak-anak ini bisa bekerja dengan SANGAT NORMAL, padahal kalau dilihat dari segi makanan, anak-anak kadang malah tidak teratur, atau asal makan saja, nyatanya sehat, peredaran darah juga sangat lancar, malah tidak pernah merasa lelah meskipun seharian bermain. Jawabannya adalah karena “otak” tidak bermain disini sehingga tidak stress.

Lain lagi dengan kondisi psikir orang dewasa, karena otak digunakan terus (lebih ditekankan pada emosi), maka secara tidak terasa, munculah stress sehingga dengan stress ini bisa mempengaruhi kinerja “otak” dan ketika otak ini terganggu maka secara otomatis akan mempengaruhi cara kerja organ tubuh yang lain dan ketika ini berkepanjangan maka timbulah suatu penyakit.

Ketika saya hubungkan dengan ibadah (sholat, dzikir) maka kondisi yang tenang, tidak stress, tidak terburu-buru, senang, sabar maka inilah yang disebut dengan “thumakninah”. Dan kondisi inilah yang bisa mengantarkan seseorang untuk bertemu dengan ALLAH. Karena ketika sholat dalam keadaan grusa-grusu dsb. yang keluar tidak lain adalah sekedar olah raga alias jungkar-jungkir.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: