Posted by: Tohar | July 3, 2009

Pantangan makan karena takut sakit


Banyak orang berpantang makan sate kambing atau tongseng kambing karena takut hipertensi, takut stroke. Takut makan kepiting dan cumi karena kolesterol. Takut makan jeroan, emping, bayam karena asam urat. Apakah emang benar demikian?

Kemarin ada kasus, ada temen yg mengeluhkan sakit kakinya, bengkak dan terasa sakit ketika berjalan, dan ternyata itu adalah ASAM URAT. Dia ngaku kalau makanan yang dimakan itu sangat teratur, sudah mengikuti anjuran dokter. Tetapi kok tiba2 kumat? Lalu obat diminum, dan sudah hampir 1 minggu, belum juga sembuh. Nah pertanyaannya adalah, jika tidak melanggar pantangan, kan penyakitnya tidak kambuh, tetapi kenapa asam uratnya tiba-tiba kambuh? Apakah salah makan, jawabnya tegas, tidak. Lalu kenapa sakit?

Makanan tidak bisa menimbulkan penyakit. Yang bisa membuat sakit adalah ALLAH atas permintaan manusia sendiri. Lha kok manusia yang minta sakit? Sakit itu timbul karena disfungsi organ-organ tubuh sehingga kerjanya tidak beraturan. Kerja tidak beraturan sebagai akibat dari fungsi otak yang tidak sinergi sehingga organ tubuh tidak ngikut pada perintah otak. Otak jadi kacau kerjanya karena manusia banyak stress, sering marah, sering tidak mau menerima keadaan. Yang nyuruh marah itu siapa, yang nyuruh stress itu siapa, kan tidak ada. Lha terus kok suka marah, suka emosi, suka menyakiti orang lain. Ya, semua itu adalah kesombongan-kesombongan alias ego-ego yang dipelihara dan dirawat dengan baik alias selalu ditonjolkan.

Selama makanan itu halal, selama makanan dan minuman itu tidak berlebihan, selama sebelum makan diawali dengan DOA dan diakhiri dengan ucapan syukur kepada ALLAH maka tidak akan menimbulkan penyakit tertentu. Jadi sekali lagi kuncinya adalah ALLAH, mau apa tidak kita kembali kepada ALLAH. Kembali kepada ALLAH artinya gak usah neko-neko, gak usah ngawur, gak usah suka protesan, gak usah suka demo, gak usah suka marah, gak usah merasa pintar, gak usah merasa bisa, gak usah merasa mampu, gak usah membenci orang lain.. maka jadinya adalah diri ini tenteram, hati nyaman, tidak punya musuh, ketemu siapapun juga enak dan jadinya adalah semua organ tubuh ini normal dan jadilah SEHAT.

Rosululloh sendiri kan menganjurkan, jangan bertengkar lebih dari 3 hari. Kalau mau ditelusuri lebih lanjut, ketika orang itu emosi, maka semua syaraf itu menegang dan karena ketegangan inilah yang bisa merusak syaraf dan organ tubuh.

Jadi kesimpulannya adalah makanan tidak menyebabkan SAKIT.


Responses

  1. he..he..he, setuju mas
    makanan gak ada yang menyebabkan sakit, gak ada pantangan makan itu, dan yang paling tepat memang adalah mengendalikan nafsu makan (bukan karena takut sakit) tapi Rosul saw menganjurkan demikian, karena apa? karena dapat menghidupkan dan melembutkan hati.
    Efek dari banyak makan adalah Endut (he..he..he, kayak aku nih) meski sekarang mengerem makan ya tetep endut, he..he..he, mungkin dah cetakan (grand desainnya) dari dulunya begitu kali? ah, yang paling penting, bismilah (sebelum makan), makan dengan tenang dan penuh syukur, lihat kiri-kanan (maksudnya lihat tetangga sekitar) dengan kata lain peduli dengan sesama bila tetangga atau ada orang lain yang kelaparan ya mari diajak makan bersama, lalu sesudah makan kita bersyukur, alhamdulilah. Makan itu ideal nya cukup untuk menegakan tulang-tulang kita dalam beribadah pada Allah, niscaya gak ada itu namanya sakit.

  2. setuju mas…hidup bukan untuk makan tapi makan untuk memperpanjang hidup. paribahasanya. makan untuk memberikan vitamin buat sel-sel tubuh ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: