Posted by: Tohar | January 26, 2010

Syukur (2)


Kondisi ekonomi yang sulit kok tunjangan kesehatan malah dipangkas, bonus tahun baru juga di hapus,uang makan yang kecil, tidak ada tunjangan hari tua. Perusahaan macam apa ini? Ini adalah sekelumit ungkapan keluh kesah yang sering terlontarkan. Apakah keluh kesah seperti itu salah? Jelas tidak salah asal itu sekedar keluh kesah lalu mencari solusi yang baik dan bukan malah menjadi pemicu mundurnya kinerja atau malah memicu untuk bertindak anarkis dsb. Selama masih mikir secara individu secara rumus matematika, maka keluh kesah semacam itu tidak akan ada habisnya. Keluh kesah semacam itu seharusnya tidak perlu terjadi karena sesungguhnya semua keadaan yang ada ini memang sudah di SETTING seperti itu. Ketika kita berkeluh kesah spt itu, itu tidak ubahnya kita protes keadaan kepada yg men setting.

Dunia ini adalah panggung sandiwara kalau pengin mendapatkan peran yang baik, maka solusinya harus mendekati sutradara agar perannya diganti kalaupun toh tidak bisa diganti, minta agar peran antagonis atau peran sebagai kacung atau pesuruh ini tidak berlama-lama dan lalu berganti menjadi peran sebagai majikan. Atau terima peran itu apa adanya dengan ikhlas, tanpa protes sama sekali, karena memang perannya baru sebagai kacung.

Jangan sesekali protes ke sutradara kok peranku jelek, karena lama-lama Sang Sutradara bisa jengkel, lalu mencabut peran itu dan memberikannya ke orang lain. Repot juga kan akhirnya karena perannya dicabut maka secara otomatis kita tidak akan ikut dalam pentas sandiwara ini. Coba kalau kita menerima peran itu, menikmatinya, lalu berterima kasih kepada Sutradara maka Sutradara pun akan selalu mengajak kita main Sandiwara bahkan diberi peran yang lebih baik dari sebelumnya.

Bersyukurlah karena kita masih diberi kesempatan ikut main sandiwara jadi ikut meramaikan dunia ini. Rumah tangga tanpa pembantu ataupun perusahaan tanpa tukang kirim surat juga ndak jalan. Tidak ada peran yang sia-sia, semuanya bermanfaat dan semuanya kembali berpulang kepada diri kita sendiri, maukah kita menerima peran ini, lalu menikmatinya? Kalau mau maka rasanya juga enak. Kalau menolak, maka rasanya juga tidak enak, ada jengkel, merasa di dholimi, merasa di sia-sia dsb. Dan pentas sandiwara ini tidak lama, masih ada pentas yang lebih lama dan abadi, dan yang abadi inilah tujuan yang sebenarnya. Tinggal pilih, mau pentas sandiwara yang sementara atau pentas sandiwara yang sesungguhnya, yang kekal atau langgeng? Mau yang langgeng, maka BERSYUKURLAH.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: