Posted by: Tohar | February 28, 2010

Bercermin pada Ka’ab Bin Malik


Ka’ab Bin Malik termasuk sahabat Rosululloh yang baik. Kemanapun Rosululluh pergi perang, Ka’ab selalu ikuat. Hanya ada satu perang yang dia tidak ikuti yaitu Perang Tabuk. Kenapa dia tidak ikut? Karena saat itu hartanya sedang melimpah jadi ada rasa enggan untuk meninggalkannya.

Ketika Rosululloh kembali dari perang, Ka’ab bisa saja berdalih sedang sakit atau alasan lain yang masuk akal, tetapi Ka’ab lebih suka berterus-terang dan lalu menghadap Rosululloh dan menyampaikan kesalahan yang sudah diperbuatnya. Dia mengakui semua kesalahannya dan memohon maaf kepada Rosululloh. Akhirnya Rosululloh memerintahkan Ka’ab untuk tidak pergi kemana-mana dan berdiam diri di rumah sampai turun pengampunan.

Setiap kali Ka’ab bertemu dengan sahabat-sahabat dan mengucapkan salam, tidak ada satupun sahabat yang menjawab salam itu, bahkan ketika Ka’ab berkunjungan ke rumah para sahabat, tidak satupun sahabat yang mau menemuinya. Betapa sedih hati Ka’ab mengalami peristiwa ini. Hampir 40 hari sudah Ka’ab bermunajat memohon ampunan Allah dan malam ke 40, datanglah sepucuk surat dari Rosululloh yang berisi perintah agar Ka’ab menjauhi dari istrinya dan agar istrinya jauh dari Ka’ab.

Pada malam ke 50 selepas sholat shubuh ketika Ka’ab masih tenggelam dalam munajatnya, turunlah wahyu kepada Rosululloh yang berisi pengampunan kepada Ka’ab. Mendengar kabar gembira itu, seluruh sahabat lalu beramai-ramai mendatangi Ka’ab lalu menyalaminya. Rosululloh kemudian meminta Ka’ab untuk membacakan wahyu itu yaitu Surat At Taubah ayat 118 :

dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Apa yang bisa kita petik dari kisah ini adalah pelajaran tentang kejujuran dan taubat nasukha. Tidak perlu mencari-cari alasan ketika berbuat salah dan ketika sudah mengaku salah, maka bertobatlah dengan sungguh-sungguh, maka Allahpun PASTI akan memberi ampunan.


Responses

  1. sebuah kisah yg mencerahkan mas……

    ya saya pun sering begitu, kadang saya agak bingung tobat nasuha itu seperti apa, karena watak manusia yg angin2an apalagi ditambah karena belum memahami dosanya dimana serta dampak dari dosanya itu bagaimana….selama ini kita kan tobat karena takut neraka, sedangkan neraka diakherat itu gaib tentu panasnya tida bisa kita rasakan………intinya tobat karena takut neraka yg kita percayai keberadaannya tapi belum kita yakini sebab kita belum pernah bersaksi dan melihatnya….hihihihi….mohon maaf mas apabila ada salah2 kata…..

  2. Ada anak kecil yang memukul kaca lalu pecah. Lain lagi seorang tua yang memukul kaca lalu kacanya pecah berantakan. Dua kejadian yang sama tetapi dengan background yang berbeda pula. Syurga dan neraka yang real itu nanti, saya juga tidak tahu karena belum menyaksikan, tetapi syurga dan neraka yang sekarang sudah kita alami. Jika belum bisa menikmati surga yang sekarang bagaimana kita akan menikmati syurga yang sesungguhnya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: