Posted by: Tohar | March 5, 2010

Bahasa “Kehendak”


Ketika mengalami sesuatu yang sangat tidak mengenakkan semisal digeser dari posisinya lalu digantikan oleh orang lain, maka terlontarlah ungkapan “aku merasa teraniaya” oleh si A. Atau.. gajiku tidak naik-naik, aku diganjal oleh boss ku dsb.

Aniaya.. menderita.. merasa dikerjai, apakah memang seperti itu adanya ataukah itu timbul karena belum memahami bahasa “Kehendak” Allah. Menerima kehendak Allah adalah wujud syukur. Semua bisa “Terjadi” karena ijin ALLAH, jadi bukan si A atau si B yang mengganjal atau menganiaya, tetapi Allah menghendaki sesuatu terjadi melalui si A atau si B. Kalau kita menyalahkan si A atau si B, itu sama saja kita menyalahkan ALLAH.

Menerima “kehendak Allah” dengan ikhlas, jadi teringat kisah Iblis yang saat itu menolak untuk sujud kepada Adam, karena dia merasa “Lebih”. Ada ego atau kesombongan disini. Jadi ketika kita menolak kehendak ALLAH, maka itu artinya kita tidak ada bedanya dengan Iblis tadi itu. Maukah kita di cap “sombong” oleh Allah? Naudzu billahi mindzalik.

Menolak “kehendak” sama saja akan melahirkan “ketidak nyamanan, jengkel, tidak tenang” dsb dan itu tidak menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah baru. Tidak enak hanyalah soal cara sikap “menerima”. Tidak enak juga tidak ada yang ada adalah semua itu ENAK. Semua kembali berpulang kepada Syukur atau tidak syukur tadi itu.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim ayat 7).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: