Posted by: Tohar | April 9, 2010

Kosong.. suwung…


Balon udara ketika diisi oleh hidrogen maka beratnya akan semakin ringan dan lalu akan membumbung tinggi ke angkasa karena berat yang semakin ringan. Demikian juga maka untuk semakin lepas mendekat ke Allah, jadilah seperti balon itu, membuat diri semakin ringan, jangan bebani diri dengan beban pikiran dan beban perasaan. Buatlah sekosong mungkin alias lepaskan semuanya. Tinggalkan tubuh ini, dorong dengan gas hidrogennya yaitu panggillah ALLAH dengan teguh. Maka tubuh akan semakin ringan blas… lepas…..


Responses

  1. Lihat lagi balonnnya.. sampai sejauh mana dia mampu meluncur ke atas?
    Memangnya nikmat.. makan minum tanpa rasa?
    Jadi…
    Yang bisa memahami, posisinya dekat dan jauh itu apa?
    Yang bisa memahmai, posisinya berat dan ringan itu apa?
    Yang bisa memahami, apa?????

    Pikiran bisa saja lonjat jauh kesana dan kemari
    Tapi hati, rasa, TIDAK bisa loncat kang Mas…
    Sesuai yang dimakan
    Sesuai yang dilewati
    Sesuai yang dialami
    Kalau seumur hidup tidak pernah makan apel
    Maka…
    Seumur hidup itu pula tidak akan pernah tahu rasanya apel

  2. Lepas bukan berarti keluar
    Loncat bukan terbang ke angkasa
    Ringan bukan berarti berat tubuh
    Berat bukan berarti beban

    Baru bisa makan nasi, maka nasi ini yang dinikmati dan disyukuri. Ada rasa manis, ada rasa legit. Ada lidah tetapi bukan penyecap. Lidah cuma instrumen

    Besuk mau coba makan mie…. dan besuk baru bisa merasakan mie. Sekarang melihat dan membayangkan mie dulu.

    Ada rasa ada pula masa
    Paham bukan pikir, paham juga bukan hati

  3. Ngambang persis balon
    Tidak membumi
    Tidak pula
    Melangit

    Sorry …
    Gak nyambung mas
    Jawabannya
    Ya sudah lah

  4. Semua sambung menjadi satu tidak ada yg terpisah-pisahkan, karena balonpun tercipta dari alam. Tidak naik tidak pula turun karena sebenarnya posisinya “disini” dan “disini”.

  5. salam pak,,

    allah itu maha meliputi, dia ada di sini, sekarang juga,, orang kata kalau sudah kenal allah,
    sudah bersatu dengan allah,, sudah tiada ujian lagi,,

    sudah tiada sakit lagi,, tapi yang ada hanya
    kebahagiaan,,

    kata orang juga kalau sudah kenal allah dan bersatu tiada kesakitan atau cobaan lagi,, masakan dia menguji dirinya sendiri,,

    tapi pak,, contoh bagi diri saya, saya sering masuk ke ruang kosong nan tak terbatas itu,, tanpa pikiran dan perasaan,, dan tinggal di dalamnya buat beberapa ketika,,

    bagaimana pun, saya masih lagi merasa kesakitan,, masih lagi terkena gangguan jin dan santet,,

    bagaimana caranya pak,, agar saya tidak lagi diganggu oleh benda-benda seperti itu?

    makasih banyak.

  6. Bisa ndak kita suwung alias hening dalam keseharian alias itu menjadi “PERILAKU” keseharian bukan dalam ketika patrap atau dzikir. Kondisi “zero mind” alias kosong alias suwung tidaklah sulit tetapi yang tidak mudah adalah menjalankannya dalam hidup sehari-hari. Bisa ndak kita menjaga diri dari emosi, jengkel dsb?? Jika semua itu sudah bisa terjada dengan baik dan kita masih terkena gangguan jin atau santet, maka sesungguhnya Allah lah yang menghendaki itu terjadi. Jika seperti itu maka “berpikir positiflah” kepada Allah. Berarti ada “sesuatu” dibalik itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: