Posted by: Tohar | April 26, 2010

Kang Jafar dan Mbah Minto soal jimat penglarisan


Mbah Minto seorang pedagang ayam goreng di Pasar Yaik. Sudah seminggu ini usahanya sepi, tidak banyak pembeli datang jadi setiap malam selalu membawa sisa dagangannya. Yang biasanya memotong 25 ekor ayam, malam ini hanya laku 3 ekor ayam, berarti 23 ayam harus dibawa pulang. Yang biasanya bisa membawa untung 1 juta rupiah semalam, kini hanya dapat 100 rb semalam.

“Assalamu alaikum Mbah Minto,” sapa Kang Jafar sambil ngepulkan asap rokok Sampurna nya. “Waalaikum salam, Kang Jafat,” jawab Mbah Minto. “Biasa Mbah, menu rutin, dada goreng, nasi uduk dan kopi pahit,” pesan Kang Jafar. Sambil menunggu pesanan, Kang Jafar ising nanya ke Mbah Minto,” Tumben Mbah, kok sepi malam ini? “Kok malam ini, sudah seminggu sepi Kang, malam ini Kang Jafar orang pertama yang datang. Kalau gini terus, alamat bangkrut Kang. Kenapa kok sepi ya. Kang Jafar tahu dimana ada dukun ampuh, biar dapat penglarisan. Saya curiga ini gara-gara persaingan dengan sesama pedagang. Mungkin saya sedang dikerjai ini,” lanjut Mbah Minto.

Kang Jafar cuma tersenyum saja mendengar pertanyaan Mbah Minto itu. Lalu dia menjawab, dengan meyakinkan, Mbah Minto, kalau soal penglarisan, saya tahu dukunnya, malah sangat dekat tinggalnya dengan Mbah Minto. Asal Mbah Minto mau datang, saja, PASTI dagangan Mbah Minto laris lagi. Kok mung urusan penglarisan, urusan opo wae, dia bisa menyelesaikan. Mbah Minto terbelalak matanya sambil berkata ke Kang Jafar,” Kang, mbok aku diantar dan dikenalkan,tenan iki. Tolongi aku ya. Kang Jafar menjawab,” Ngopo aku dadak ngeterke, jenengan Mbah. Mbah Minto sudah kenal bahkan Mbah Minto sudah pernah dikasih pusaka kok. Masak, Mbah Minto lupa. Mbah Minto malah kaget dan bingung. “Mbah sopo to Kang, kok aku lupa?” Lanjut Mbah Minto. Mbah Dukunnya dekat dengan Mbah Minto, setiap saat menemani Mbah Minto kok dan pusakanya tidak lain dan tidak bukan adalah SYAHADAT,” sahut Kang Jafar. Kenapa Mbah Minto bingung dan mau cari jimat penglarisan, kenapa jauh-jauh, dukunnya itu adalah GUSTI ALLAH, Dia itu MAHA YANG MEMBUAT DUKUN. Jangan lupa kepada-NYA, Mbah,” lanjut Kang Jafar. Mbah Minto terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepala, matanya menunduk ke bawah.

“Mbah, boleh ndak aku tanya kepada Mbah Minto,” tanya Kang Jafar. “Boleh Kang Jafar,” jawab Mbah Minto. Mbah Minto misalnya kerja di sebuah perusahaan AKBAR, tetapi ketika ada urusan apa-apa, malah Mbah minto pergi kepada Kang Kajiman, padahal Kang Kajiman itu tidak bekerja di perusahaan AKBAR. Nah kira-kira Juragan AKBAR, tersinggung ataukah tidak. Misal yang jadi juragan itu Mbah Minto, kira-kira jika ada anak buah yg seperti itu bagaimana, padahal setiap hari Mbah Minto sudah ngasih segala kebutuhan, tetapi dia juga minta kerja ke orang lain,” lanjut Kang Jafar.

Apa yg saya sampaikan itu adalah sebuah contoh bahwa kita sudah bersyahadat, padahal jelas makna dari syahadat itu adalah persaksian kita kepada eksistensi Allah dan Muhammad. Kita sudah berjanji Mbah, dan janji itu harus ditepati. Kalau ada orang beli ayam goreng ke Mbah Minto, sudah dimasak lalu tiba-tiba pembeli itu membatalkan, Mbah Minto kan marah. Betul tidak, Mbah, tanya Kang Jafar. “Bener Kang Jafar,” jawab Mbah Minto.

Dukun adalah manusia Mbah. Jimat itu adalah buatan manusia, kenapa kita harus mengorbankan tauhid kita hanya untuk urusan perut. Jimat itu buatan manusia dan yang bekerja di dalam jimat itu tidak lain adalah para jin atau qhodam. Jin dan qhodam itu bekerja buat yang memakai jimat itu dan jelas ada bayarannya. Bayarannya adalah Iman, Mbah. Ketika kita mati nanti, maka begitu masuk ke alam kubur, jin dan syetan itu datang menagih bayaran. Ada yg menarik tangan, ada yang menarik kaki dsb. Jin dan syetan itu berebut menagih jatah bayaran atas pekerjaan yg dulu sudah dilakukannya. Nah, apa Mbah Minto mau seperti itu? tanya Kang Jafar. Mbah Minto semakin menundukkan kepalanya sambil menjawab,” Ndak, Kang Jafar,ndak lah. Mbah, kalau mau laris, datang saja ke Allah, yakinlah bahwa rezeki itu sudah di atur oleh Allah. Jangan lupa bersedekahlah, karena di dalam rezeki yang diturunkan Allah kepada Mbah, itu ada bagian untuk orang lain.. Dan…perlu Mbah ketahui bahwa ketika dagangan Mbah Minto sepi, sebenarnya Allah sudah memberikan rezeki itu kepada sesama pedagang ayam goreng yang lainnya. Istilahe, bagi-bagi rezeki. Dulu kan Mbah Minto paling laris, saat ini dibuat sepi biar yg lain ikut kaya seperti Mbah Minto, ” lanjut Kang Jafar. Mbah Minto tertegun mendengar celotehan Kang Jafar dan lalu berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Malam semakin larut dan pembicaraan tersebut ternyata lebih dari dua jam. Malam itu, hanya ada satu pembeli yaitu Kang Jafar, tetapi Mbah Minto tidak sedih dengan hanya laku 1 porsi ayam goreng saja. Hatinya terbuka bahwa selama ini dia sudah mendua karena sudah sering memakai penglarisan dalam dagangannya. Mbah, aku pulang dulu,” pamit Kang Jafar. “Pulang kemana Kang”, tanya Mbah Minto. “Mau pulang ke Menara Kudus”, jawab Kang Jafar sambil ngeloyor. Kang Jafar pun kembali pulang, dan tak lupa selalu menyedot rokok kesayangannya Sampurna kretek.


Responses

  1. Semua yg tercipta dan yg ada hakekatnya adalah Allah itu sendiri.. Lalu nafsu itu mahkluk Allah yg gmn kok dlm kehidupan dunia ini “dia” sulit sekali diatur utk diajak kembali kepada fitrahNYA??

  2. Kita ajak nafsu kita ke Allah, Kang. Ajak nafsu ini untuk bersyukur dan tunduk ke Allah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: