Posted by: Tohar | April 28, 2010

Iman adalah pondasi utama


Rukun Islam diawali dengan syahadat alias persaksian. Rukun Iman di awali dengan percaya kepada ALLAH. Mutlak dan ini adalah kunci dari TAUHID. Maka apapun yang kita lakukan kuncinya adalah IMAN, yakin kepada ALLAH. Iman mendasari setiap perbuatan yang kita lakukan setiap saat, setiap hari. Bekerja mencari nafkah, menikah dasarnya adalah iman. Patrap, sholat dasarnya harus IMAN. Iman menyelimuti dari awal sampai akhir, sebuah kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Iman tidak bisa bercampur dengan non-iman. Iman adalah tegak lurus, tidak goyang, tidak miring kiri atau kanan, seperti sebuah huruf ALIF, tegak lurus. Sekali ke ALLAH maka terus ke ALLAH.


Responses

  1. Maaf mas haji, diblog panjenengan maupun blog siapa saja yg mengajarkan ketuhanan saya membaca dan mempersepsikan seolah olah Tuhan itu adalah sesuatu yg berada disuatu tempat dgn segala sifatnya kemudian DIA minta disembah dan diagungkan bukan kesadaran dari kita pribadi sbg mahluknya sedangkan sifat asli Tuhan adalah Tan biso kinoyo ngopo, tunggal dll. Shg pola pikir kita khususnya saya menggambarkan sosok Tuhan adalah sesuatu yg dilengkapi dgn atribut keMAHAannya padahal kita tahu bila Tuhan lbh dr sekedar MAHA dan DIA berada melingkupi semua yg ada, jd bgmn tanggapan mas haji bila menemukan org yg bermind set spt ini dan gmn cara merubah mind set spt itu agar Tuhan adalah sejatinya adalah semua yg ada?? Gusti / Tuhan / Allah = bagusing ati / nurani / keheningan jiwa apa benar begitu, mas??

  2. Laisa kamislihi saiun fil ardh bahwa Allah menyelimuti langit dan bumi tidak bisa digambarkan sebagai sosok, bukan pula wujud. Apa yg kita lihat adalah wujud dari dzat alias ciptaaan-Nya. Gusti/Tuhan/Allah sebutan saja. Orang dipedalaman barangkali menyebutnya dengan sebutan yang lain, bisa saja dan itu tidak mengurangi keagungan-Nya. Ada tahap-tahapan seseorang dalam memahami Allah. Memberikan pengertian dan pemahaman bukan merubah mind set karena ketika paham dengan sendirinya mind-set itu akan berubah sendiri. Tidak salah orang bermind-set spt itu, krn memang baru paham dengan tahap itu. Tuhan tidak minta disembah tetapi manusia sendiri yang sudah ikrar utk menyembah-Nya.. alastu birobbikum qolu bala syahidna…

    Bagusing ati/nurani adalah sebuah cermin dari dzat. Keheningan jiwa adala tahap mutmainah dan setelah mutmainah masih ada tahap lagi. Maaf Gus Pur itu yg bisa saya sampaikan. Sulit saya menyampaikan lewat sebuah tulisan, dan memang baru dalam tahap ini saya memahami.

  3. Matur nuwun, mas haji!! Sebenarnya bathin dan jiwa sdh merasakan kehadiran Tuhan sampai menyentuh kekedalaman relung kalbu tapi pikiran ini selalu memproyeksikan / mengajak kpd yg “lain”. Bila saya menyadari bhw manusia itu hanya sekedar “wayang” yg hanya nglakoni ttp pikiran ini maunya “ego / keakuan” lah yg muncul dan menguasai..

  4. Nolkan pikiran..buang semua beban.. seperti halnya balon udara.. lepaskan saja..jangan dipegang terus. Dengan meng “NOL” kan pikiran dan hati maka yang ada adalah Allah. Cukup hadapkan saja.. hadapkan saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: