Posted by: Tohar | May 13, 2010

Belajar pasrah kepada bayi


Tidak perlu jauh-jauh untuk belajar kepasrahan, cukup melihat bayi saja itu sudah lebih dari cukup. Bayi tidak berfikir, tidak perlu menggunakan instrument yang lain. Ketika dia lapar, maupun haus, cukup menangis saja maka sang ibu lalu memberinya ASI. Tidak ada emosi disini, dia hanya mengikuti kehendak ALLAH. Mau di apa-apakan, ngikut saja. Sunatullah dari Bayi adalah menangis. Itu saja. Pasrahnya seorang bayi juga merupakan kesadaran tertinggi dari seorang manusia. Sadar sepenuhnya bahwa yang ada adalah ALLAH. Kesadaran bayi ini juga disebut “zero mind”, bisa juga disebut suwung. Tidak ada apa-apa, tanpa persepsi, tanpa catatan, tanpa pula reserve. Zero mind ini juga yang disebut ikhlas alias tanpa tendensi. Tendensinya hanya satu yaitu ke Allah. Kemanapun bayi dibawa, dia ngikut saja bahkan dia dibuang ke tempat sampah, ke selokan, atau dicekik oleh orang tuanya sekalipun, dia ngikut saja. Jika sunatullah bayi itu menangis, maka sunatullah kita yang dewasa adalah bekerja dengan baik, berperilaku yang baik, beribadah yang baik dan menyerahkan semua urusan kepada YANG MEMBUAT URUSAN itu. Jangan banyak protes, terima apapun pemberian, lalu syukuri. Maka kita akan menjadi pribadi-pribadi yang SADAR sebagai seorang makhluk, sebagai seorang HAMBA.


Responses

  1. Nice word’s, bro!! Melalui tulisan2 bang haji bisa membimbing KESADARAN bhw kita ini bukanlah apa2 hanya sekedar wayang yg sdg dijalankan oleh SANG DALANG.. Matur sembah nuwun kangmas!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: