Posted by: Tohar | July 4, 2010

Renungan di malam ke 40 tahun


40 tahun sudah perjalanan hidup ini terjalani, tepatnya 40 tahun lebih 9 bulan lebiih 10 hari. Perjalanan panjang dari ruh yang ditiupkan ke janin lalu lalu digerakkan untuk keluar menuju ke alam nyata. 40 tahun sudah perjalanan hidup ini terlampaui, ada suka, senang, canda tawa, bahagia, senang, derita bercampur aduk menjadi satu. Tidak ada acara tiup lilin ataupun pesta nasi kebuli, opor ayam dsb melainkan menyengajakan diri keluar rumah, menyepi di alam raya untuk merenung, flasback 40 tahun lalu dan ternyata begitu banyak kesalahan yang sudah tercipta, begitu banyak maksiat yang sudah saya lakukan, begitu banyak amarah yang sudah saya tebarkan, begitu banyak waktu kulewatkan percuma dan begitu banyak perbuatan tidak hak lain yang sudah saya lakukan. Dan, ternyata…perjalanan 40 tahun ini belumlah cukup banyak bekal yang saya bawa untuk “kembali”.

Tidak ada pesta, tidak ada lampu lilin serta tidak ada rokok yang menemani kecuali alam gelap gulita dengan rasa dingin yang menusuk kulit. Ditengah dinginnya dan sepinya malam, diriingi jatuhnya tetes-tetes embun, ku coba untuk melihat ke dalam dada ini semua rekaman 40 tahun yang sudah terjadi dan rekaman itu satu-demi satu terbuka, berjalan dan terlihat sangat jelas waktu masih di SD, SMP, masa kuliah serta masa-masa jahiliyah bergelimang dengan begitu banyak maksiat maupun dosa-dosa besar lainnya. Air mata tidak mampu keluar lagi, mulut tidak bisa berkata-kata lagi kecuali hati yang hanya bisa menyebut dan memohon ampunan dan tuntunan.

Satu kalimat yang masih terngiang di telinga adalah umurmu sudah 40 tahun, apa yang sudah kamu lakukan dengan umurmu ini??? Sudah siapkah kamu dipanggil untuk kembali ke asal muasalmu? Bekal apa yang kamu bawa?? Gambar rumah lengkap dengan mobil beserta anak dan istri terlihat jelas dan semua kenikmatan dan kemewahan itu akan ditinggal semuanya…Fana……

Tidak ada kata-kata……diam dan tunduk..tunduk semakin dalam melihat ke dalam dan..tiba-tiba terdengar suara yang sangat halus dan lembut dalam hati….”nek wis dadi banyu bening, dadio banyu bening”, ojo dikotori. “Sholat….sholat……….kubuka mata dan sepi, tidak ada siapa-siapa. Kulihat langit yang terlihat terang….pohon-pohon yang rimbun…..tegak berdiri menjulang ke atas. Engkau sudah memberikan jiwa mutmainah kepadaku, tetapi mutmainah ini selalu kukotori dengan amarah dan aluamah. Ya Allah, aku ingin menjadi air yang bening itu. Mohon tuntunan MU, Ya Allah. Aku ingin kembali kepada-MU dengan ridho. Ya Allah…kuatkan saya, lindungi saya dari perbuatan yang tidak baik. Kuatkan saya, Ya Allah..kuatkan..kuatkan saya untuk selalu beribadah kepada-MU semata.

Aku tunduk semakin dalam.. jiwaku semakin melayang jauh tinggi. Aku tidak tahu kemana dan tiba-tiba terdengan adzan…..Semalam suntuk aku duduk termenung dan kaki ini beku…sudah saatnya sholat shubuh.. Terima kasih Ya Allah.. terima kasih.

Kudus, 4 Juli 2010


Responses

  1. subhanallah,,tulisan yang cantik,,,salam hangat,,

  2. amin ya Robb. Kumpulkanlah kami dalam jannah Mu

  3. amin, subhanallah alhamdulillah beri aku kekuatan ya Allah agar sisa umur ini jauh lebih bermanfaat dari waktu2 yang sudah aku tinggalkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: