Posted by: Tohar | July 8, 2010

Kenapa gampang sekali menuduh sesat kepada Ary Ginanjar dan Abu Sangkan??


Artikel ini terinspirasi atas fatwa haram Mufti Malaysia terhadap Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) yang dipelopori oleh Ary Ginanjar, juga terinspirasi atas tuduhan sesat oleh Ust. Abu Umamah terhadap Ust Abu Sangkan soal buku berjudul Berguru Kepada Allah maupun metoda pengajaran Sholat Khusyuk.

Saya sangat tergelitik membaca berita tentang fatwa haram ataupun juga fatwa sesat dari Mufti Malaysia terhadap Ary Ginanjar dengan ESQ nya. Ingatan saya terbuka kembali terhadap tuduhan sesat dari Ust Abu Umamah terhadap Ustad Abu Sangkan. Beliau dianggap mengajarkan ajaran sesat, bid’ah dan segala macam pernik-perniknya. Metoda sholat khusyuk, juga patrap semua dianggap sesat. Saya sendiri bingung dasar fatwa sesat itu yang seperti apa. Kenapa mudah sekali mengeluarkan fatwa sesat ataupun fatwa haram. Berani mengeluarkan fatwa tersebut maka satu pertanyaan sederhana adalah “sudahkah diri kita ini lebih benar dari orang yang kita tuduh sesat itu?? Jangan-jangan mengeluarkan fatwa sesat atau haram itu sudah menjadi trend, ataulah muncul dari penelaahan yang sangat dalam ataukah karena emosi sesaat sebagai akibat timbul dari kalah tenar ataukah faktor lainnya?

Selalu ada Pro dan Kontra, dimanapun. Selalu ada sisi positif dan sisi negatif dimanapun, kapanpun dan berlaku buat siapapun. Jangankan manusia, bahkan Allah saja seringkali dianggap negatif, tidak baik. Dianggap tidak adil dsb. Seperti halnya ketika mau pulang kerja tiba-tiba hujan turun deras sekali dan berjam-jam tidak berhenti sedangkan jas hujan tidak ada. Maka tanpa tersadari muncullah celetuk, mau pulang kerja kok malah hujan.Hujan kok ndak berhenti-berhenti atau kadang malah mengumpat, sialan…hujan lagi hujan lagi. Hal semacam itu kalau mau ditelaah lebih lanjut tidak ubahnya kita berpikiran negatif kepada Allah.

Tuduhan haram kepada ESQ dan SK (baca Sholat Khusyuk Ust Abu Sangkan) membuat saya teringat kepada Rosulululloh ketika pertama kali menerima wahyu dan lalu menyebarkannya. Jadi tidak perlu heran soal sesat dan haram, karena jangankan Ary Ginanjar dan AS, bahkan Rosululloh saja dianggap sesat, dianggap gila dan sebagainya dan bahkan hampir dibunuh, disiksa. Para pengikutnya tidak sedikit yang disiksa sampai mati bahkan ada seorang budak wanita dijemur di terik matahari kemudian dirobek dari kemaluan sampai ke mulut hanya gara-gara sudah bersyahadat.

Para Nabi tidak serta merta menerima wahyu, melainkan merekapun menempuh perjalanan yang panjang meskipun secara hakekat para nabi dan rosul itu memang sudah disetting dari awal, jadi bukan kebetulan. Blue Printnya sudah jelas. Tetapi coba kita tengok sejarah betapa seorang Muhammad banyak menghabiskan waktunya untuk bertafakur di Gua Hiro dan itu tidak satu atau dua tahun. Beliau sering berdiam diri di Gua Hiro bertahun-tahun, berarti kalau beliau menerima wahyu pada umur 43 tahun, sudah belasan tahun beliau mencari Allah. Jadi itu perjalanan yang panjang. Apa ini tidak disebut pencarian? Kalau pencarian ini dianggap sesat oleh Mufti Malaysia, terus yang benar seperti apa?

Sejarah Nabi Ibrahim mencari Allah dari kecil sampai dewasa, melihat Matahari, Bulan, Air, Api, Bintang, Batu dsb dan akhirnya menemukan pencerahan berupa wahyu dari Allah.

Sejarah Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir, dalam surat Kahfi, apakah itu tidak disebut dengan pencarian?? Sejarah perjalanan Nabi Yusuf sampai diceburkan ke dalam sumur, bahkan sampai diperjara dan bertemu dengan Siti Zulaikah, apakah itu tidak disebut dengan pencarian. Tidak usah jauh-jauh bahas masalah agama, kita bekerja setiap hari bukankah ini disebut dengan mencari rezeki?? Kalau tidak dikatakan mencari, pakai bahasa apa lagi?? Meskipun hakekatnya adalah ALLAH menurunkan rezeki itu kepada umat manusia, tetapi kalau tidak dicari berupa usaha berkerja, apa uang itu langsung datang sendiri ke rumah?

Salah satu contoh yang nyata adalah orang menganggap sesat kepada orang lain ketika orang itu melakukan sesuatu hal itu tidak ada dalam tuntunan al quran ataupun al hadist. Benar tidak salah, setuju saja tetapi ada lagi ijmak kias bukan?

Contoh aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada tuntunan untuk bersedekah kepada orang lumpuh, orang buta atau bahkan tidak ada tuntunan kita harus bersedekah untuk membuat masjid, yatim piatu. Yang ada adalah bersedekah di jalan ALLAH, mau diberikan kepada orang tidak mampu, mau disumbangkan kepada fakir miskin, untuk membuat jalan, jembatan dsb, apakah bedanya?? Bedanya adalah bentuk saja tetapi esensinya sama yaitu berbuat sesuatu karena Allah.

Ary Ginanjar mengajarkan ataupun bahasanya adalah menyampaikan tentang pentingnya mengedepankan HATI karena HATI adalah cermin dari ruhani itu sendiri dan HATI tidak bisa ditipu dan hati adalah central nurani manusia. Ketika manusia dibimbing oleh hati, maka hidupnya akan tenang, sabar, tidak gampang bingung dsb. Namun ketika otak ini yang memimpin, maka ketika menjadi seorang tokoh, perbuatan yang dilakukan tidak lebih dari cerminan ambisi hawa nafsu, apapun bentuknya. Nur Illahi pun diturunkan dan disusupkan ke hati terlebih dahulu baru disebarkan ke seluruh tubuh dan instrumen yang menerima adalah OTAK dan dalam otak ini ada akal budi dan akal budi ini adalah cerminan dari hati nurani ini.

Ustad Abu Sangkan mengingatkan kepada umat tentang adab sopan santun beribadah kepada Allah, agar khusyuk, yang serius, yang ikhlas menyembah Allah, jangan main-main atau setengah hati datang ke Allah. Apa yang disampaikan adalah sebuah metoda, apakah itu bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh para kyai selama ini? Beliau lebih menekankan kepada aplikasi dan bukan sekedar teori, bukan sekedah fiqih, apakah itu salah. Dan, ketika semua saran beliau itu dijalankan dan ternyata menimbulkan efek orang tersebut semakin tekun beribadah, semakin sabar, semakin tunduk ke Allah, apakah itu SESAT? Apakah sholat berjam-jam juga SESAT?? Kalau sesat berarti Muhammad juga sesat karena beliau kalau sholat juga bisa berjam-jam. Lalu yang BENAR itu yang mana? Beranikah atau sudahkah Ust. Abu Umamah dan MUFTI Malaysia itu memberikan contoh kongkrit kepada umat??

Sesat, benar ataukah salah, hak ataupun batil bukanlah HAK Manusia. Itu adalah HAK ALLAH.

Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah lakukanlah sesuatu dengan keyakinan dan apapun perbuatan itu selama perbuatan itu membuat kita semakin ingat kepada ALLAH, membuat kita semakin tunduk kepada ALLAH, maka itu adalah perbuatan yang benar, tetapi ketika perbuatan itu membuat kita semakin jauh dari ALLAH, maka itu berarti salah. Tolak ukurnya ada di situ itu. Selama rukun Islam dan Iman masih ditegakkan, just do it. Mau dianggap sesat, silahkan, mau dituduh Kafir silahkan. Pokoknya silahkan.

Ada tambahan lagi. Tolak ukur sudah menjalankan Islam dengan baik itu sederhana. Lihatlah perilaku orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sudahkah dia berbuat keselamatan kepada diri sendiri dan orang lain. Indikasinya sangat sederhana yaitu orang tersebut PASTI sabar, PASTI baik, PASTI tidak gampang marah, PASTI tidak suka beruat aniaya baik lewat ucapan maupun perbuatan dan PASTI selalu mengajak berbuat kebaikan. Tolak ukurnya sudah PASTI, bukan mungkin karena SALAM itu adalah PASTI, yang menjamin adalah ALLAH.

Bagi para santri nya Ary Ginanjar.. santai saja. Bagi para santrinya Ustad Abu Sangkan.. be happy…sholat khusyuk jalan terus.


Responses

  1. makasih banyak ilmunya…salam hangat…

  2. kemaren baca tentang ini (ESQ yang dianggap sesat oleh mufti malaysia) di thread internal kantor, namun ternyata ada teman yang mengupload berita selanjutnya bahwa tidak semua mufti disana menganggap hal ini sesat bahkan MUI, Muhamadiyah dan NU juga mengirimkan surat kepada mereka mengenai ESQ ini tidak bertentangan dengan ajaran islam.
    Yang menganggap sesat hanya satu mufti saja yang tidak datang saat diundang ke dalam pelatihan ESQ tersebut, dan bahkan saat ini pelatihan ESQ tersebut tetap jalan di beberapa negara bagian malaysia lainnya dengan diawasi oleh mufti dan tokoh islam disana. itu yang saya baca dari artikel selanjutnya.
    Mengenai Shalat Khusuk gaka ada yang salah dan sesat mungkin kondisinya sama, karena ketidak tahuan dan ketidak mau tahuan saja sehingga mereka mengecap sesat.

  3. Iya Cak. Lebih baik masuk ke dalam terlebih dahulu, merasakan dan baru komentar. Ketika di atas meja ada hidangan, bagaimana bisa merasakan lezat kalau tidak mencicipinya. Fatwa sesat dari Mufti maupun komentar sesat dr kelompok lain pun juga perlu, karena itu sebuah bentuk kontrol. Mau menerima kritik dengan tidak emosi, maka itupun bentuk ujian dari Allah. Marah dan ngamuk maka itu bentuk tidak lulus ujian…jadi enjoy aja kayak slogan LA Light (dasar perokok he he he).

  4. maju terus ESQ dan SK marilah terus berlomba lomba dalam kebaikan, smg qta tdk termsk dlm golongan manusia yang dengan mudahnya menjelek jelekan manusia lainya.

  5. Kadang tulisan atau kalimat atau kata tidak bisa mewakili suatu maksud yang dikandung,Disinilah kadang timbul pemahaman yang berbeda beda,Makanya bagi orang jangan buru buru memvonis sesuatu itu sesat atau tidak,Pelajarilah lebih mendalam tentang sesuatu tersebut,Bila perlu si Penulis Atau Penggagas mengadakan dialog tanya jawab dengan pembaca atau orang atau masyarakat awam biar tidak timbul persepsi yang berbeda.Ibarat Anak SD,SMA,Perguruan tinggi ,mempelajari “SESUATU” yang sama maka hasilnya akan berbeda,Disinilah perlu penjelasan yang lebih mendetail.Alquran aja turun Hadist pun turun untuk memperjelas Alquran,Mohon maaf kalo ada yang salah,Saya pun juga penggemar Abu Sangkan.

  6. ya mikir sederhana tapi logis

  7. Assalaamu’alaikum wa rohmatulloh,,

    untuk ESQ, ga ada masalah. OK aja.

    untuk ajaran Abu Sangkan? maaf,,, dia belum memahami arti ” Sholat Khusu’ “. Dikiranya sholat khusu’ artinya sebatas gerakan2 pada saat melakukan sholat. Sholat khusu’ versi Abu Sangkan hanya mempertebal egoisme pada oranga yang mengikutinya, yang merasa sudah mengenal Alloh, lebih dari orang lain.

    Allohu a’lam,

  8. Ndak usah mikir jauh2 di Indonesia ini saja dalam satu hal kelompok satu mengatakan sunnah kelompok lain mengatakan haram, juga dengan satu hadits yang sama pengartian bisa bertolak belakang…hati kita yang paling tahu..apakah itu benar atau tidak..sebab hadits ataupun qur’an jika tidak dengan hati yang bening juga bisa punya makna banyak…

  9. Mas Tedy, terima kasih sudah masuk dan memberi komen, namun ada hal yang perlu diluruskan soal pendapat MAs yang mengatakan bahwa Ust. Abu Sangkan belum memahami arti sholat khusyul. Kalau menurut Mas, sholat khusyuk itu yang seperti apa? Sekiranya menurut Mas, Ust. Abu Sangkan itu belum memahami, mohon Mas bisa memberi masukan atau..ayok kita ketemu,kita bisa berdiskusi. Jika sekiranya ada yang salah dari Ust. Abu Sangkan, maka Mas bisa meluruskan karena Mas sudah tahu. Jika Mas hanya berkomentar tanpa melakukan tindakan apapun, maka seperti halnya Mas itu sedang lapar tetapi hanya berbicara makan nasi padang tanpa membeli nasi padang dan memakannya. Khusyuk, yang saya pahami dari Beliau adalah bermakna tunduk, takut..min khosiatilahi taala…artinya takut kepada Allah.Jadi Khuysuk itu bukan konsentrasi melainkan tunduk dan takut kepada Allah.Seseorang yang sudah merasa takut kepada Allah,maka PASTILAH dia akan selalu serius dalam setiap aktivitasnya. Dalam konteks sholat, maka karena sudah merasa takut kepada ALLAH,maka tidak akan ada keraguan lagi, tidak akan main-main dalam Sholat.Gerakan adalah unsur fisik, tetapi khusyuk adalah batiniah. Namun…seseorang yang khusyuk secara otomatis fisiknya juga khusyuk…dan secara otomatis pula semua ucapan nya juga khusyuk alias tidak akan pernah mencela siapapun meskipun terhadap orang yang tidak disukainya…dan orang yang khusyuk PASTILAH akan selalu mencintai sesama umat dan alam semesta karena orang yang KHusyuk PASTI Berbuat SALAM…….Terima kasih Mas Tedy.Suwun.

  10. Pak Abu Sangkan telah menjawab semua persoalan yang membelenggu fikiran saya yang bertahun lamanya tentang solat, hakikat zikir, meditasi, tenaga dalam dan ibadah.
    Terima kasih banyak2 kerana membebaskan saya dari beberapa kumpulan sesat yang saya ikuti sebelumnya setelah saya membaca buku beliau “BERGURU KEPADA ALLAH”.
    Saya meninggalkan kumpulan sesat yang berguru dan mengikuti fikrah Pak Abu tanpa berjumpa dengannya (Pak Abu)
    Syukur kepada Allah. salam kepada Pak Abu dan sahabat seperjuangan di Indonesia yang banyak membantu.
    Zaini Mohamad- Malaysia.

  11. Selamat bermakrifat kepada Allah….Tks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: