Posted by: Tohar | July 16, 2010

Menjemput kematian dengan senyum


Banyak cerita tentang para pinisepuh yang notabene bukan kyai, hanya orang biasa saja yang sederhana jauh dari kesan santri, namun beliau-beliau kembali menghadap Allah dengan tenang, dengan senyuman, tidak ubahnya seperti orang yang tidur.

Ada cerita yang sangat menarik dan kebetulan pinisepuh ini adalah orang tua dari sahabat saya. Umur beliau sekitar 80 tahun tetapi masih sehat kemana-mana naik sepeda onthel. Wajahnya putih bersih, kehidupannya sangat sederhana. Beliau tidak mengidap sakit apapun, tetapi dalam waktu satu mingggu, beliau tidak mau keluar dari rumah, waktu-waktunya dihabiskan di dalam kamar saja. Beliau mulai mengurangi makan, minum serta mengurangi tidur. Genap 6 hari, beliau minta ke anaknya agar seluruh saudara dikabari diminta kumpul semua karena beliau akan pergi jauh. Anak-anaknya paham akan maksud beliau itu. Seluruh anak ditelepon serta seluruh famili dikabari. Jadi akhirnya hari ke 7 rumah menjadi sesak karena pada kumpul. Sekitar jam 9 malam beliau mulai mapan di tempat tidur dengan arah utara – selatan, lalu mulai mengatur nafas. Ketika nafas ditarik penuh dan blap.. nafas terhenti, mata tertutup…beberapa detik tidak ada lagi getaran kehidupan. Namun beliau tiba-tiba membuka mata dan ngomong ke anak laki-lakinya. Nang, ojo nang duwur sirahku, ojo nutupi dalanku bali (Nak, jangan berada di atas kepalaku, jangan nutupi jalanku kembali). Anak laki-lakinya itu lalu bergeser berdiri ke samping. Beliau lalu kembali mengatur nafas sangat halus sekali.. halus dan dalam hitungan detik..nafas itu berhenti seperti orang tidur. Senyuman menghiasi bibir, wajah putih bersih juga tidak ada gerakan seiring dengan nafas yang terakhir itu. Tidak ada tangisan yang mengiringi kepergian beliau itu. Semua anak dan famili menyaksikan kepergiannya. Lalu semuanya berkumpul berdoa bersama dan setelah itu baru menyampaikan warta kematian itu ke para tetangga yang jauh. Kain kafan sudah disediakan jauh-jauh hari. Beberapa tahun sebelumnya beliau sempat ngasih nasehat.. mas, eling nang Gusti Allah nang endi wae. Mlebu metu nafas kudu di isi Allah.. Hu Allah Hu Alllah. (Mas, ingat untuk selalu berdzikir ke Allah. Nafas masuk dan keluar Hu Allah Hu Allah). Tidak perlu takut untuk mati karena mati adalah hak dari Allah. Hadapi saja dengan tenang, ikhlas.

Pada kesempatan lain, saya pun pernah menyaksikan seseorang yang sakaratul maut dengan tegang, mata melotot seperti sangat ketakutan dan tubuh bergetar dengan kencang seiring dengan lepasnya nafas terakhir itu. Satu kejadian yang sangat kontras.

Pesan lain yang saya dapatkan adalah mulailah untuk membuat jalan kematian itu sendiri sebelum terlambat karena jalan mati tergantung dari kita sendiri yang menginginkannya. Mau mati dengan baik maka ikutilah tuntunan Allah yaitu beribadah dengan baik kepada Allah. Mau mati dengan tidak baik, keluar saja dari tuntunan Allah. Semua berpulang kepada kita sendiri.

Hai jiwa yang tenang, kembalilah ke Allah dengan ridho dan diridhoi….


Responses

  1. Mas maaf tanya, ko dr wejangane kaya patrapis, apa beliau pembimbing patrap panjenengan?

  2. Subhanallah sebuah perjalanan seorang hamba kembali kepada Allah dengan cara yang sangat indah, tenang dan ridho. Semoga kita bisa mencontoh beliau dengan mengikuti nasehat beliau dg mengisi keluar masuknya nafas kita dg dzikir kepada Allah. Hu….Allah…..
    Trima kasih Ustad, sebuah pembelajaran yang indah buat saya.

  3. Mas Cipto: Bukan pembimbing langsung Mas. Beliau adalah Bapak dari teman saya, Guru SD saya, juga sekalius teman kecil Bapak saya.

    Mas Haji : Itu sebuah kisah nyata kira-kira 5 tahun lalu.

  4. Kemaren Minggu saya menghantar jenazah ke liang lahat, bayi mungil baru berusia sekitar dua hari, anak tetangga, namun begitu indah melihat rupanya, wajahnya tersenyum seperti tertidur, mungkin ia melihat nabi Ibrahim sudah menjemputnya untuk bermain bersama teman-temannya yang lain di surganya Allah.

    Kapan Kang ke Jakarta?

  5. Subhanallah…

    mudah2an kita semua berpulang dalam keadaan khusnul khatimah. Amin🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: