Posted by: Tohar | September 7, 2010

Harmonisasi Alam – 2


MENJADI BAGIAN DIRI

Tadi pagi dalam perjalanan ke kantor, saya melihat seekor kucing yang sedang minum di kubangan air hujan.. kotor sekali dan siapa yang tidak jijik minum air yang kotor itu. Tapi.. itu tidak bagi kucing, air itu merupakan minuman yang sangat lezat, menyejukkan kerongkongan dan menghapus haus yang mencekik. Air yang segar bagi sang kucing, tapi bagaimana dengan diri kita, apa yang terjadi jika kita minum air kubangan yang kotor itu. Efek singkatnya adalah mencret, diare atau gangguan kesehatan lambung yang lain. Mencret atau diare terjadi karena sebuah sekat sudah terbentuk dan sengaja kita buat sendiri. Sekatnya yaitu.. itu air yang sangat kotor itu maka otak akan langsung memerintahkan lambung untuk tidak menerima air yang kotor itu. Otak langsung memerintahkan ke mulut ke lidah seakan berkata “itu air yang kotor, jijik dan bau, jangan diminum!. Sebuah sekat yang membatasi diri kita dengan air maka jadilah alergi tubuh ketika air itu masuk ke dalam tubuh.

Sang Kucing yang minum air kubangan tadi tidak berfikir bahwa air ini sangat kotor ataukah tidak. Yang ada dalam benak sang kucing adalah “aku haus dan aku perlu minum”. Perlu minum adalah sebuah kebutuhan bagi tubuh sang kucing ini. Tidak ada sekat bagi sang kucing dengan air kubangan tersebut. Sang Kucing sudah meleburkan dirinya dengan air kubangan itu sehingga air kotor itu lalu meluncur masuk ke dalam tubuh kucing dan lalu bisa diproses dan menerobos seluruh pembuluh darah. Akhirnya sang kucing tidak mati karena dehidrasi.

Itu adalah sebuah contoh nyata bahwa sekat atau hijab ini yang membuat adalah diri kita sendiri bukan orang lain. Dalam setiap kejadian, kita selalu mengedepankan diri ini.. ini aku itu aku.. aku yang benar, dia yang salah. Jadilah sekat dan jika itu dilakukan setiap hari maka sudah berapa sekat yang kita buat sampai detik ini? Maka jadilah kita ini pribadi-pribadi yang sombong, yang angkuh terhadap apapun termasuk angkuh di hadapan ALLAH. Kita merasa hidup sendiri di muka bumi dan bukan menjadi bagian yang sangat erat denga alam semesta ini. Karena sekat sudah kita buat maka secara otomatis sekat-sekat diluar sana juga akan terbentuk maka jangan salahkan ketika alam semesta pun tidak akrab dengan kita. Begitu hujan tiba maka flue datang menyerang.. ketika di panas terik dan debu beterbangan maka jadilah batuk. Kenapa karena kita bukan jadi bagian alam melainkan menjadi bagian yang terpisah dan ketika unsur-unsur alam ini masuk ke dalam tubuh akhirnya tidak bisa melebur menjadi satu. Maka ketika makan sate kambing jadilah darah tinggi, makan kacang-kacangan asam urat langsung naik dan sebagainya.

Baru dalam soal makanan saja kita sudah membuat sekat. Llalu bagaimana hubungan kita dengan ALLAH? Oooo ternyata kitapun seringkali membuat sekat ke ALLAH. Buktinya, kita sering memerintah ALLAH, bukanlah itu berarti kita berada di luar ALLAH. Harusnya kita masuk ke dalam rengkuhan ALLAH lalu tunduk dihadapan-NYA dalam rengkuhan-NYA. Belum lagi sekat-sekat yang lain seperti tidak mau menerima ridho ALLAH, selalu protes dengan pemberian-NYA. Ketika tidak mau menerima pemberian ALLAH maka secara otomatis sekat tercipta lebar di hadapan kita maka otomatis ALLAH pun tidak mau menerobos masuk ke diri kita. Jadilah sumpek, bingung, marah, jengkel dan saudara dekat jengkel lainnya (bukti dari Surat Ibrahim ayat ke 7).

Ketika hujan turun lebat disertai dengan angin kencang.. maka robohlah sebuah pohon Sono Keling bahkan sampai tercabut ke akar-akarnya. Apa pohon ini protes tidak mau tumbang?? Bahkan karena menghalangi jalan, dia rela dipotong-potong digergaji. Apa protes? Memang sampai disitu perjalanan hidup dari Sang Pohon Sono Keling. Menerima apa adanya tanpa kata tanpa daya. Sama seperti suatu saat ajal ini menjemput kita, mau atau tidak mau.. nyawa ini PASTI dicabut. Sama-sama dicabut kenapa tidak RELA saja.. menerima saja… membiarkan Malaikatn Izrail mencabutnya.. rela ke ALLAH.. YA ALLAH aku rela.. aku rela……tenang…. Rela karena memang harusnya seperti itu.. karena itu memang bagian dari proses perjalanan diri ini.

Dia, mereka, kawan, famili, tetangga, hal yang kita alami.. adalah bukan orang lain bukan hal lain.. tetapi mereka, dia, famili dsb itu adalah bagian dari diriku juga…satu.. satu karena memang asal kita satu.. sama……AHAD.. AHAD.. AHAD……

(Bersambung)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: